Abdi Edison merasa bingung saat harus menentukan teman pendamping hidup.
Harapannya ingin memiliki istri seorang gadis desa yang lugu. Namun
karena dunia informasi yang berkembang hingga ke pelosok desa, rasanya
ia kesulitan untuk menemukan gadis yang dicita-citakan itu.
Sebagai pedoman, Abdi Edison berkesimpulan bahwa gadis lugu, adalah
gadis yang tidak pernah melihat organ vital kaum pria. Hal ini akan
dibuktikan dengan menunjukan 'miliknya' kepada sang gadis. Reaksi sang
gadis akan menjadi parameter keluguannya.
Tiga perempuan yang sudah dikencaninya dengan spontan menyebut
'miliknya' dengan kata 'rudal', yang berarti mereka pernah melihatnya
karena kebanyakan orang juga menggunakan istilah rudal.
Kini giliran Juminten. Begitu ditunjukkan 'barang' itu gadis desa itu
pun dengan kalem bereaksi, "Eihh ekor tikus" sambil berusaha
menangkapnya. Karena memang dikira seekor tikus yang tidak kelihatan
kepalanya.
Abdi Edison pun merasa cocok dengan Juminten, karena terbukti dia belum
pernah melihat alat vital kaum pria. Tak mau terlambat, keduanya pun
menikah.
Di malam pertama Abdi Edison menerangkan pada Juminten tentang 'barangnya' itu, "Sayangku, ini bukan ekor tikus, tapi rudal."
Namun kecil nyali Abdi setelah Juminten menjawab, "Ah bukan, itu ekor
tikus, kalau rudal kan besar. Waktu jadi TKW di Arab aku pernah melihat
Meriam."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar